5 Juni 2026

Lukman Hakim Bongkar Tantangan Besar NU Banyumas di Era Digital

Dimensin.com

BANYUMAS — Gelora persaudaraan, semangat keumatan, dan cinta tanah air menggema kuat dalam kegiatan Silaturahmi Warga NU Banyumas bersama Lukman Hakim Saifuddin yang digelar di Aula Al A’la PCNU Kabupaten Banyumas, Ahad (17/05/2026).

Mengusung tema “Membangun Persaudaraan Sejati untuk Indonesia Harmoni”, kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi warga Nahdlatul Ulama untuk memperkuat soliditas organisasi, mempererat ukhuwah, sekaligus mempertegas peran NU sebagai penjaga harmoni bangsa di tengah derasnya arus digitalisasi dan globalisasi.

Informasi dan rangkaian materi kegiatan itu diperoleh awak media secara langsung dari Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., seusai kegiatan berlangsung melalui jaringan telpon.

Acara yang berlangsung hangat dan penuh nuansa religius itu dihadiri jajaran pengurus PCNU Banyumas, pengurus MWC NU, Muslimat NU, para akademisi, tokoh pesantren, serta warga Nahdliyin dari berbagai wilayah di Kabupaten Banyumas.

Tampak hadir di antaranya Prof. Ridwan selaku Katib mewakili unsur Rois, Prof. Ansori, Prof. Fauzi, Prof. Suwito, Dr. Luthfi Hamidi, Dr. Saridin, jajaran pengurus MWC NU, Ketua dan pengurus Muslimat NU, serta unsur badan otonom lainnya.

Dalam forum tersebut, moderator kegiatan, Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., Wakil Rois Syuriyah PCNU Banyumas sekaligus Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Banyumas, menegaskan bahwa penguatan harmoni dan persaudaraan di tubuh NU harus dibangun melalui tata kelola organisasi yang tertib, modern, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

“NU membutuhkan penguatan organisasi yang terorganisasi dengan tertib, transparan, memiliki suara publik yang jelas di ruang digital, mampu melakukan mobilisasi massa berbasis data, serta memiliki panduan komunikasi, juru bicara, dan kanal informasi yang kuat,” tegas Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag.

Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah yang berlokasi di Jalan Moh. Besar No.10, Kutasari, Baturraden itu juga menekankan bahwa NU harus mampu menjaga marwah tradisi sekaligus bergerak maju menghadapi tantangan zaman dengan kekuatan ilmu, persaudaraan, dan keteladanan.

Sementara itu, Lukman Hakim Saifuddin dalam pemaparannya mengungkapkan bahwa perubahan besar tengah terjadi di tubuh Nahdlatul Ulama. Karena itu, seluruh elemen pengurus harus memiliki visi jangka panjang dan kesiapan menghadapi perubahan sosial masyarakat yang sangat cepat.

“Perencanaan itu sangat penting dalam perjalanan NU menuju seratus tahun berikutnya. Motivasi ber-NU harus dibangun dengan husnudzon dan keikhlasan dalam berkhidmah,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat saat ini telah bergerak menuju karakter baru, yakni masyarakat urban, generasi muda, masyarakat terdidik, era digitalisasi, dan globalisasi. Menurutnya, kondisi tersebut menuntut NU tampil lebih adaptif namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

“NU dipimpin para ulama dengan integrasi ilmu yang kuat. Hubbul wathon menjadi keyakinan mayoritas warga NU. Jabatan itu amanah, artinya tanggung jawab besar. Maka pengurus harus sudah selesai dengan dirinya sendiri,” tandasnya tegas.

Dalam sesi dialog interaktif, sejumlah peserta menyampaikan pandangan kritis dan konstruktif terkait arah organisasi NU ke depan. Mulai dari pentingnya perencanaan organisasi, penguatan karakter kepemimpinan, konsep persaudaraan sejati, hingga persoalan aset dan kecenderungan politik praktis di lingkungan organisasi.

Menjawab berbagai pertanyaan tersebut, Lukman Hakim Saifuddin menegaskan bahwa amanah kepengurusan harus dijalankan dengan rasa syukur dan orientasi prestasi pengabdian.

“Amanah itu ada waktunya. Maka ketika diberi amanah, berprestasilah. NU harus tetap menjadi mitra yang menempel sekaligus mengoreksi negara demi kemaslahatan umat dan bangsa,” tegasnya.

Suasana silaturahmi berlangsung penuh kekeluargaan, teduh namun menggugah semangat perjuangan. Dari Aula Al A’la PCNU Banyumas, pesan persaudaraan sejati kembali diteguhkan bahwa Nahdlatul Ulama bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan benteng moral, penjaga tradisi, sekaligus perekat harmoni Indonesia di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat.

(Djarmanto-YF2DOI)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *